Kamis, 16 Januari 2014

Lirik&Chord Oi

BUKTIKAN
intro : A
A
Kata-kata berbisa, mulut-mulut berbusa
  A
Janji-janji bertebaran
        Em                               A
Seperti biasa dari atas panggung atas nama bangsa
   A
Yang mendengar terpeona bahkan ada yang terkesima
                        Em
Akupun tergoda untuk mengikuti apa yang terjadi
                              A
Apakah memang janji hanya janji
Reff :
       A                 Em             A
Buktikan, buktikan itu yang dinanti-nanti
       A                    Em
Buktikan, buktikan kalau hanya omong
       D    E    A
Burun beo pun bisa,.,
Intro : A
Em                    A
Kita hidup sering terancam
Em                   A
Tak ada jaminan keselamatan
Em                     A
Kamu ngomong tentang keaman

         D             A
Tapi makin banyak penggusuran
Em                    A
Kita hidup sering terancam
Em                   A
Tak ada jaminan keselamatan
Em                       A
kamu ngomong tentang kemakmuran
         D              A
Tapi makin banyak pengangguran
A
Kata-kata berbisa, mulut-mulut berbusa
  A
Janji-janji berhamburan
    Em                                        A
Seolah-olah kami ini bodoh tak mengerti apa-apa
    Em
Seolah-olah kami ini anak kecil
                               A

Yang bisa kau bohongi sesuka hatimu

Sabtu, 07 September 2013

Kabudayan Jawa






Cerita Kabudayan Jawa.
Berawal dari tarian kuda lumping, sekarang berubah kearah yang lebih maju untuk kesenian kudalumping tersebut. tadinya yang hanya tarian kudalumping sekarang ditambahkan dengan tarian kecak dan Leak dari kebudayaan Bali. dengan berbagai cara menggabungan tarian tersebut. tapi dalam masalah nama kesenian sedikit berubah yang tadinya kudalumping juga ada yang menyebutnya kesenian itu LEYAK'AN.

Sejarah Lagu Bang Iwan "Pulanglah Pak"

Pulanglah Pak

Hanya dengan denting gitar akustik dan suara serak Iwan Fals, puisi karya Fitri Nganti Wani -anak Widji Tukul- menjadi sebuah lagu yang sangat menyayat perasaan. (Widji Tukul adalah seorang korban penculikan pada 1998 yang sampai sekarang tidak diketahui nasibnya).

Iwan Fals menyanyikan puisi ini dengan penuh penjiwaan pada acara peluncuran buku "Selepas Bapakku Pergi" karya Fitri Nganti Wani, di Graha Bakti Budaya, TIM Cikini, Jakarta, 16 Juni 2009.

Bagi saya, gaya bernyanyi Iwan Fals dalam lagu ini sedikit mengobati kerinduan pada sosok Iwan yang liar, garang namun tetap bersahaja. Nada-nada sederhana dalam lagu ini mengingatkan pada album akustik Iwan Fals di tahun 90-an. Dan wajar bila beberapa kawan setelah mendengarkan lagu ini
mengatakan, "Inilah Iwan Fals sebenarnya..!". (sb)

Pulanglah Pak
Lirik: Fitri Nganti Wani
Lagu: Iwan Fals

Pulanglah, Pak
Kami sekeluarga menunggumu, Pak
Kawan-kawanmu juga menunggumu, Pak
Pulanglah, Pak
Apakah kamu tidak tahu
Indonesia pecah, Pak?
Pipa-pipa menancap ditubuh pertiwi kita
Asap-asap dari pabrik-pabrik mengotori pertiwi kita,
Pak
Limbah-limbah membuat sungai-sungai dan kali-kali
tercemar
Kami terpaksa tutup hidung, Pak
Pertiwi kita menangis
Pertiwi kita butuh kamu, Pak
Oooh...
Pulanglah, Pak
Apakah kau tidak ingat aku lagi?
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua orang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja
Aku harus menunggu?
Penguasa...! Kembalikan bapakku...!

PENGUASA...! KEMBALIKAN BAPAKKU...

Rabu, 21 Agustus 2013

Tangis Di Ujung Takbir Ramadhan.

Sungguh KeagunganMu Tuhan
Tak pernah ku banyangkan sejak ku terlahir
Saat ini detik ini ketika menuju penghujung sholat Itdul Fitri
Ku kumandangkan takbir Mu
Takbir bukti keagunganMu
Setiap tetesan air mata
Bukti ku syukur pada Mu
Dan engkau masih Mengizinkan aku untuk Kumandangakan takbir
Seolah semua berubah
Jiwa raga yang sejuk
Walau teringat dosa
Tapi seolah AmpunanMu terlihat dan ku rasa.

Sabtu, 15 Juni 2013

Asal-Usul Candi Borobudur Fakta Terbaru

Metrotvnews.com, Bogor: Penulis buku Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman KH Fahmi Basya berkeyakinan terungkapnya misteri Candi Borobudur yang menggambarkan kisah nabi-nabi besar bisa berpotensi mengislamkan masyarakat dunia. "Daya tarik Candi Borobudur akan mengalahkan lukisan Monalisa dan bangunan bersejarah lain yang ada di dunia. Orang-orang di seluruh dunia akan berdatangan untuk melihat fakta bahwa Borobudur menjelaskan kebenaran Alquran, jadi bukan peninggalan umat Budha," kata KH Fahmi dalam seminar bertema Titik balik Candi Borobudur di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (6/4). Ia menyebutkan Candi Borobudur tersusun dari dua bangunan yaitu bagian bawah merupakan karya masa Nabi Sulaiman dengan bantuan para jin dan bagian puncak merupakan bangunan milik Ratu Saba yang dipindahkan dengan kecepatan cahaya ke bagian atas Candi Borobudur. Dalam buku tersebut, ia menjelaskan dengan detail dan ilmiah bukti-bukti bahwa Borobudur merupakan peninggakan Nabi Sulaiman seperti adanya relief yang menggambarkan kisah Nabi Yunus yang terlempar dari kapal dan siap diterkam ikan besar. Kemudian ada relief yang menggambarkan Nabi Sulaiman, Nabi Daud (ayah Sulaiman), kisah Ratu Saba yang mengangkat kain karena dikira lantai yang diinjak adalah kolam. Ada 40 bukti eksak yang dijelaskan dalam buku tersebut. Salah satu bukti paling kuat dan belum bisa dibantah ialah ditemukannya surat dari Nabi Sulaiman bertuliskan, 'Bismillahirrahmanirrohim' di atas plat emas di dalam kolam pemandian Ratu Saba atau Ratu Boko di daerah Sleman, Jawa Tengah. Bahkan, diduga Sleman berasal dari nama Nabi Sulaiman. Fahmi mengharapkan pemerintah Indonesia dapat melakukan kajian atas temuan-temuan dan fakta yang diungkapkan olehnya, sehingga ada ekspedisi yang membuktikan Candi Borobudur bukanlah peninggalan agama Buddha. "Saya bisa membuktikan Borobudur bukanlah peninggalan Buddha. Tidak ada bukti peninggalan Buddha di Borobudur. Tidak ada di relief candi ini membuktikan Borobudur peninggalan Buddha," kata ahli matematika Islam ini. Fahmi menyebutkan perlu perhatian pemerintah untuk melindungi Candi Borobudur. Dari temuan tersebut akan menarik minat masyarakat dunia untuk mendatangi Borobudur. Mungkin selama ini masyarakat datang berkunjung hanya sekadar melihat dan mendokumentasikan diri. Namun, fakta yang ia ungkapkan bahwa Candi Borobudur menjadi bukti asal muasal bangsa Indonesia. Pesan lain yang terkandung dalam penemuan itu ialah Nusantara merupakan negeri Saba yang merupakan duplikatnya surga. Menurutnya, jika pemahaman tersebut ditanamkan guru-guru kepada muridnya sejak kecil akan menumbuhkan rasa bangga dan jiwa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. "Generasi muda kita akan menjadi percaya diri. Pemahaman ini perlu dimasukkan dalam kurikulum. Guru-guru sejarah harus dilatih agar menyebarluaskan pemahaman ini," katanya. (Ant)

Pasar Persaingan Sempurna